Bundesliga baru saja selesai menghelat pekan ke-34 sekaligus pekan penutup musim 2024/2025 strata sepakbola Jerman. Cukup berbeda dengan liga top Eropa lainnya, Bundesliga menghelat seluruh pertandingan pekan ke-34 secara serentak. Hal ini mengakibatkan Bundesliga memiliki ending yang lebih dramatis, meskipun Bayern Munchen yang kembali menjadi jawara. Pertandingan antara Borussia Dortmund menghadapi Holstein Kiel dan Eintracht Frankfurt menghadapi SC Freiburg menjadi sorotan utama dalam kesempatan kali ini. Pasalnya ketiga tim secara serentak duduk di posisi 3-5 klasemen untuk memperebutkan jatah Liga Champions Eropa.
Laga di Signal Iduna Park baru berjalan satu menit kala Felix Nmecha melakukan penetrasi ke dalam kotak penalti yang membuahkan penalti bagi Dortmund. Sang top-score Liga Champions, Serhou Guirassy maju untuk mengeksekusi dan melesatkan tendangan keras terarah ke gawang Thomas Dahne. Hanya 7 menit berselang dari gol pertama Dortmund, Holstein Kiel terjerumus ke dalam mimpi buruk yang berkepanjangan. Seakan tak cukup dengan penalti di menit awal, kini mereka harus bermain dengan 10 pemain ketika pemain internasional Swedia, Carl Johannsen terkena kartu merah. Dortmund berhasil memanfaatkan situasi dengan sangat baik, mereka bisa menambah dua pundi gol melalui Marcel Sabitzer dan Felix Nmecha di babak ke dua. Akan tetapi, di tengah hiruk-pikuk pesta, Dortmund harus berterimakasih terhadap Frankfurt yang mengecundangi Freiburg di Europa-Park Stadium. Pasalnya jika Freiburg berhasil unggul maka mereka lah yang akan mendapatkan jatah spot liga Champions Eropa. Freiburg memang berhasil unggul terlebih dahulu melalui sepakan Ritsu Doan di menit ke-27. Akan Tetapi Frankfurt secara keji berhasil membalikkan keadaan dengan mencetak tiga gol melalui Ansgar Knauff, Kristenssen, dan Ellyes Skhiri yang mengakibatkan pasukan black and yellow berhasil duduk di posisi 4 klasemen serta berhak untuk lolos ke Liga Champions Eropa selama 10 tahun berturut-turut.
Bundesliga memang selalu memberikan atmosfer yang berbeda dibandingkan 5 liga top Eropa lainnya. Gemuruh suporter, arahan pelatih, dan teriakan penuh passion para pemain di tengah lapangan. Bukan hanya saat ini Bundesliga mengalami akhir yang begitu dramatis. Musim 2022/2023 menjadi saksi bisu seberapa dramatis akhir musim Bundesliga sekaligus menjadi saksi mata dalam peristiwa bottling terbesar dalam sejarah sepakbola. Kala itu Dortmund hanya membutuhkan kemenangan menghadapi Mainz di hadapan 81.365 pendukung setianya. Musim itu memang menjadi musim yang penuh roller coaster bagi tim asal North-Westphalia. Mereka secara dramatis entah mengapa gagal meraih poin penuh saat menghadapi tim papan bawah Bundesliga. Kekalahan 3-2 menghadapi Werder Bremen di pekan ke-3 dan imbang kala menghadapi VFB Stuttgart di pekan ke-28 menjadi alasan terbesar Dortmund gagal menjadi jawara Jerman untuk ke-9 kalinya. Dortmund yang unggul dengan margin dua gol di kedua laga tersebut berhasil terkena comeback di menit akhir pertandingan. Matchday terakhir menghadapi Mainz juga tidak kalah anehnya. Tim tuan rumah yang bermain dihadapan suporter nya tertinggal dua gol lebih dulu di babak pertama melalui tandukan Karim Onisiwo dan Lee Jae Sung.
Laga pada sore itu mungkin menjadi penyesalan terbesar Marco Reus dalam 15 tahun karir sepakbolanya. Ia sudah berkali-kali mengalami kegagalan saat sedikit lagi meraih kejayaan. Final liga champions Eropa musim 2013, gagal masuk skuad akhir timnas Jerman di piala dunia 2014, tertinggal dua poin dari Munchen di Bundesliga 2019 dan masih banyak lainnya. Dan kini, ia harus merasakan kesedihan yang sama. Reus baru masuk di pertandingan itu pada menit ke-40 untuk menggantikan Karim Adeyemi yang mengalami cedera. Pada musim itu Reus memang sudah mulai kehilangan menit bermainnya, tergerus karna fisiknya yang semakin menua. Reus barangkali sudah tahu bahwa laga ini akan memiliki akhir yang sama seperti penderitaannya di masa lampau, akan tetapi ia memilih untuk percaya. Karena kini ia berdiri di hadapan 81.365 the yellow wall yang setia meneriakkan namanya. Dan benar saja, harapan itu mulai terlihat. Ketika Rapha Guerreiro mendaratkan bola dengan keras ke jala yang dijaga Finn Dahmen. Tapi waktu sepertinya tidak berpihak kepada Reus, gol Niklas Sule di menit ke-95 hanya menjadi pelipur lara di tengah banyaknya kesedihan. Pasalnya Bayern Munchen yang menjadi pesaing gelar berhasil mencetak gol di menit ke-90 melalui Musiala kala menghadapi FC Koln.
Bundesliga memang tidak sebesar Premier League dalam urusan pasar global, tidak semegah La Liga dalam urusan bintang, tidak sekaya Ligue 1, dan tak sebersejarah Serie A. Tapi Bundesliga punya sesuatu yang tak bisa ditiru: gairah. Gairah para suporter yang mencintai klubnya seumur hidup. Gairah para pemain yang bangga membela panji klub dengan penuh cinta. Menyatu ke dalam cerita yang menghasilkan akhir sebuah semangat yang takkan bisa ditiru liga-liga lainnya.