Football Meet Food

La Remontada dan Pertanda Kehancuran FC Barcelona

    Laga Quarter-final Liga Champions Eropa yang mempertemukan Real Madrid antara Arsenal baru saja dihelat pada Rabu (16-04-2025) pukul 21.00 waktu setempat di Estadio Santiago Bernabeu. Laga yang mempertemukan  sang juara bertahan dan sang runner up EPL berakhir dengan skor agregat 5-1 bagi keunggulan tim tandang. Para punggawa Real Madrid menatap laga tadi malam dengan penuh optimisme, mengesampingkan kekalahan telak 3-0 yang didapat di leg pertama. Para punggawa bintang seperti Jude Bellingham, Vinicius Jr, dan Rodrygo bahkan sempat mengunggah status instagram yang berisi psy-war tentang remontada. 

    La Remontada atau yang lebih dikenal dengan remontada adalah sebuah kata Spanyol yang dapat diartikan kembali, yang dalam kasus sepak bola yakni comeback setelah kekalahan telak di leg pertama. Remontada pertama kali dipopulerkan oleh FC Barcelona pada musim 2017 setelah comeback luar biasa menghadapi PSG di laga 16 besar Liga Champions Eropa. Barca yang saat itu kalah telak 4-0 di Parc des Princes berhasil membalikan keadaan dengan kemenangan telak 6-1 di Camp Nou pada leg ke dua. Ditonton oleh 99 ribu pendukungnya, Barca bermain menekan sejak awal. Strategi itu terbukti ampuh ketika umpan lambung Rafinha berhasil dimanfaatkan oleh Luis Suarez dengan tandukannya. Gol kedua Barca datang pada menit ke-40 ketika Luis Suarez memberikan umpan terobosan terhadap Andres Iniesta. Sejujurnya hol kedua barca adalah sesuatu yang tidak dapat diprediksi, Iniesta memang terjepit diapit dua pemain PSG, tapi ia berhasil melakukan tendangan back hill yang tidak dapat dihalau Kurzawa dengan baik.
    
    Iniesta kembali berulah dalam upaya terjadinya gol ketiga. Ia melakukan umpan kombinasi dengan Neymar yang kemudian dilanggar di dalam kotak terlarang. Lionel Messi maju mengeksekusi penalti, keras mengarah ke sisi kiri yang tidak dapat dihalau oleh Kevin Trapp. PSG sempat menjaga asa lolos ke babak berikutnya melalui gol Edinson Cavani pada menit ke-62, hanya 10 menit setelah gol penalti Lionel Messi yang kemudian buyar ketika menjelang akhir laga. Memanfaatkan tendangan bebas, Neymar berhasil mencetak gol free kick cantik yang menghujam keras gawang Kevin Trapp. Dan hanya 1 menit setelah gol tersebut, Neymar lagi-lagi berhasil membuat Kevin Trapp tertunduk lesu lewat eksekusi penaltinya pada menit ke-90.

    Di detik ketika gol itu tiba, semua pemain PSG terdiam. Cavani yang sebelumnya riang gembira merayakan golnya tertunduk lesu seakan tidak percaya apa yang baru ia alami. Barcelona berhasil menyamakan kedudukan. Hatinya hancur sehancur-hancurnya. Tim yang ia cintai sepenuh hati telah berubah menjadi harimau yang kehilangan taringnya. Para punggawa PSG bermain tak punya arah, menghujam sana sini yang akhirnya membuahkan kesempatan terakhir bagi FC Barcelona. Neymar, yang telah berkontribusi dalam tiga gol sebelumnya maju memberikan umpan lambung akurat. Sergi Roberto tak mau kalah lihai, dirinya dengan sigap berlari meninggalkan pengawalan Blaise Matuidi. Bagi Roberto mungkin inilah saatnya. Kesempatan terbesar dalam hidupnya. Kesempatan terbesar untuk membuat dirinya dikenal dunia. Dan ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Berhadapan satu lawan satu dengan Kevin Trapp, Roberto menyontek bola dengan lihai dan menjebol gawang PSG untuk ke-6 kalinya. Barcelona berhasil comeback!

    Tapi peristiwa remontada seakan menjadi pertanda buruk bagi Barca di edisi Liga Champions musim selanjutnya. Barcelona tak pernah mencapai level yang sama seperti yang ditunjukkan nya pada malam itu. Musim 2018 barca mendapatkan karma. Mereka seakan mengulang kejadian remontada di musim lalu. Hanya saja kali ini mereka yang menjadi korban. Roberto yang pada helatan sebelumnya menjadi penyelamat, kini hanya tertunduk lesu di ibu kota Italia. Roma memang tidak punya pemain serberkilauan Messi, atau tidak punya penyerang haus gol bak Suarez. Tapi mereka punya tekad. Sepakan Edin Dzeko dan Danielle De Rossi secara bergantian menjebol gawang Ter Stegen. Dan Keajaiban itu baru datang pada menit ke-82. Ketika dewa agung Yunani turun ke 7 bukit Roma untuk menebar keajaiban. "Roma has risen from their ruins, Manolas the Greek god in Rome" Pekikan keras Drury berhasil menyadarkan sang alien.  Bahwa mulai saat ini, mulai detik ini, Fc Barcelona yang ia cintai telah sepenuhnya berubah.

    Barca bak merasakan peristiwa De Javu di helatan Liga Champions musim 2019. Setelah kekalahan menyakitkan dari Roma di Stadion Olympico, kini mereka harus berhadapan dengan Liverpool, tim yang secara kualitas jauh diatas Roma. Barca kembali menang meyakinkan di Camp Nou pada leg pertama. Gol tunggal dari Luis Suarez di menit ke-26, sontekan Messi di menit ke-75. Dan tendangan bebas ikonik Lionel Messi pada menit ke-82. Semua terasa berat bagi Liverpool. Bagaimana tidak, dua superstar mereka, Salah dan Firmino harus melewatkan laga karna cidera. Tapi Anfield memang bak legenda Moby Dick yang terkenal sepenjuru Eropa. Semua pelaut pasti bergidik ngeri saat melihat paus pembunuh raksasa di depannya. Dan seluruh penggemar sepak bola pasti bergidik ngeri saat melihat para liverpudlian berdiri gagah di Anfield mendukung tim kesayangannya. Sama seperti saat melawan Roma, barca kebobolan di fase awal babak pertama. Divock Origi berhasil memanfaatkan bola muntah bekas tendangan Jordan Henderson. Skor 1-0 menutup pertandingan babak pertama.

    Georginio Wijnaldum berhasil melesatkan 2 gol dalam kurun waktu 2 menit. Menit ke-54 dan 56. Memasuki fase akhir pertandingan mimpi buruk Barcelona datang. Kali ini bukan dari tandukan Konstantinos Manolas, tapi datang dari kejeniusan Trent Alexander-Arnold. Trent yang jeli memperhatikan pertahanan Barca yang sedang lengah melancarkan umpan silang akurat kepada Divock Origi. Bola dengan keras merobek jala Ter Stegen untuk keempat kalinya. Gol yang membawa Liverpool menjadi jawara eropa setelah 14 tahun lamanya. Musim selanjutnya tidak usah diceritakan. Semua orang tahu seberapa bobroknya Barca pada saat itu, baik di dalam maupun di luar lapangan. Hasilnya? bisa ditebak, Barca dipecundangi Bayern dengan skor telak 8-2. Musim-musim selanjutnya pun tak ada yang special. Gugur di 16 besar pada 2021, turun kasta ke Liga Eropa pada 2022 dan 2023 sebelum bangkit kembali pada tahun 2024 bersama Xavi Hernandez.

    Musim ini Barca berhasil bangkit. Menuju tangga Semi-Final setelah 6 tahun lamanya. Dan kini peristiwa remontada akan terus dikenang sebagai peristiwa paling dashyat yang pernah terjadi, termasuk oleh Real Madrid. Rival abadi mereka yang secara ironis mengagung-agungkan peristiwa remontada. Mencoreng harga diri rival abadi yang disandang selama ratusan tahun lamanya.