"Bumi Pasundan lahir ketika tuhan sedang tersenyum". Setidaknya itulah yang terpampang jelas dalam sebuah jembatan penyebrangan di jalan Asia Afrika, Kota Bandung. Kalimat itu merupakan buah pemikiran M.A.W Brouwer, seorang pastor kelahiran Hindia-Belanda yang mengabdikan hidupnya untuk dunia pendidikan di tanah pasundan. Ucapan Brouwer bukan tanpa alasan, tanah pasundan memang diberkahi dengan kekayaan yang melimpah, baik kekayaan alam, budaya, maupun spiritual. Berbicara tentang kekayaan spiritual, Kota Bandung baru saja menunjukkan kekayaan spiritualnya yang melimpah. Kali ini dihadapkan kepada saudaranya yang terpaut ribuan kilometer jauhnya, Palestina. Pada Minggu (20/04/2025) ribuan masyarakat Bandung berkumpul untuk menyuarakan aksi solidaritas terhadap konflik Israel-Palestina yang semakin memanas. Aksi solidaritas ini merupakan runtutan aksi yang terjadi akibat serangan udara yang dilakukan Israel secara membabi-buta.
Kekayaan spiritual tidak hanya dapat ditunjukkan lewat aksi solidaritas, maupun secara diplomatis yang melibatkan banyak negara. Tetapi juga dapat dihadirkan lewat penghargaan akan kebudayaan milik saudara kita yang tertindas. Yakni penghargaan terhadap makanan khas rakyat Palestina. Masih di Bandung, kali ini tepatnya di daerah Cihampelas, tidak terlalu jauh dari jembatan penyebrangan ikonik di jalan Asia Afrika. Namanya Rumah Palestina, sebuah restoran autentik yang menyajikan makanan timur tengah. Bangunan nya tidak terlalu luas, hanya saja terasa minim dibersihkan yang menyebabkan kesan kurang nyaman saat melihatnya. Menu yang menjadi andalan dari restoran ini adalah nasi maqluba, nasi berempah sejenis nasi briyani yang dimasak menggunakan beras basmati. Selain itu terdapat juga shawarma yang disajikan dengan hummus, yakni daging panggang beserta tumbukan kacang arab yang diberi rempah-rempah khas timur tengah.
Cukup jarang menemukan restoran timur tengah yang menyajikan hummus dalam menunya, mungkin karena rasanya yang kurang cocok dengan lidah orang Indonesia. Rasanya nutty dengan sedikit tambahan rasa creamy. Hummus memiliki tekstur yang lembut dan halus yang cocok dikombinasikan dengan roti prata dan potongan daging yang juicy. Sayangnya kelembutan hummus adalah paradoks, yakni penggambaran terbalik akan situasi politik kawasan timur tengah yang keras. Saat di Bandung kita dapat menikmati hummus dengan lahap, menikmatinya dalam dunia yang penuh gemerlap, di sisi lain dunia ini mereka harus menikmatinya dalam kesedihan, di tengah-tengah reruntuhan rumah yang menjadi saksi bisu jeritan tangis dan perjuangan yang tak kurun usai.
Sudah lebih dari 14 bulan Israel secara membabi buta menyerang Palestina. Menghilangkan puluhan ribu nyawa tak bersalah yang menangis karena dentuman yang begitu mencekam. Serangan Israel terhadap Palestina sebenarnya bukanlah hal baru, mengingat konflik tersebut sudah berlangsung sejak tahun 1948. Sejak tahun 2007 pula Palestina lumpuh total, pembatasan makanan, air, listrik, dan obat-obatan yang dilakukan Israel menyebabkan penduduknya tak berdaya. Konflik Israel-Palestina sebenarnya tidak bisa diklasifikasikan sebagai konflik, mengingat kesenjangan yang terjadi antara 2 kubu yang terlibat. Israel memiliki militer yang amat kuat, ditenagai puluhan ribu personil dan kendaraan perang lapis baja, belum lagi sistem pertahanan udara Iron Dom yang tak memberikan kesempatan bagi rudal yang ditembakkan oleh milisi Palestina. Di sisi lain Palestina hanya ditenagai keberanian, personil secukupnya, dan alutista sederhana. Secara logika jelas mereka takkan pernah menang, tapi secara spiritual mereka dapat membumi hanguskan pasukan si kepala baja. Netanyahu namanya, perdana menteri Israel yang dulu mengemis untuk kewarganegaraan, tapi kini ia bertekad untuk menghilangkan sebuah negara.
Secara perlahan, sekutu yang dulu mendukungnya kini mundur karena kemanusiaan. Karena hakikatnya perang bukanlah sesuatu untuk mendulang kejayaan, tetapi jelmaan neraka yang turun melalui jutaan tangisan. Kedepannya tidak ada yang tahu nasib bangsa itu, akankah terhapus dari sejarah, atau membalikan keadaan secara tak terduga. Tapi semua orang tahu bahwa perang ini harus dihentikan, karena kemanusiaan yang sesungguhnya ialah memanusiakan manusia.